Gua adalah lingkungan yang unik dan rentan, untuk itu harus dikonservasi secara aktif jika mungkin dipelihara sesuai dengan kondisi aslinya. Alasan dari kerentanannya adalah bahwa membutuhkan banyak waktu untuk membentuk suatu fitur, sebuah formasi kalsit yang dirusak caver yang kikuk dapat membutuhkan waktu ribuan tahun untuk perbaikan. Bagaimanapun, bentukan bukan satu-satunya di dalam gua yang harus dilindungi, Fauna & Flora (binatang (termasuk kelelawar), pakis, jamur, dll) cenderung sungguh jarang dan dalam beberapa kasus mungkin hanya didapati pada satu gua tau kelompok gua. Banyak gua mengandung peninggalan arkeologi, baik manusia dan tumbuhan atau fitur penting (tentu saja tambang adalah fitur sejarah itu sendiri).
Caving adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat. Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di Bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua
Peralatan Penelusuran Gua
Peralatan dalam penelusuran gua sangat penting bagi keamanan penelusur itu sendiri, karena dengan peralatan itulah penelusuran dapat dilakukan dengan baik. peralatan itu dapat dibagi menjadi dua katagori :
A. Perlengkapan pribadi :
1. Lampu, syaratnya harus bisa ditempelkan pada helm. Helm, diusahakan yang tidak mudah pecah. Jika ternyata pecah tidak akan melukai kepala.
2. Coverall (Werkpak), dengan warna yang menyolok.
3. Sarung tangan, sebaiknya dari kulit yang lemas atau karet.
4. Sepatu, usahakan yang tinggi sehingga dapat melindungi dari gigitan binatang berbisa atau terkilirnya pergelangan kaki.
5. Sumber cahaya cadangan, bisa berupa lilin senter korek api.
6. Peluit, sebagai alat komunikasi darurat.
Perlengkapan tersebut hanya dapat dipergunakan untuk gua Horisontal (datar), atau gua yang agak rumit hingga memerlukan keterampilan untuk mendaki dan menuruni secara bebas tanpa peralatan (Free Climbing).
Perlengkapan pribadi ini harus diperluas apabila hendak melakukan penelusuran dalam jangka waktu yang lama, banyak terdapat air dan banyak memiliki lorong.
Alat-alat yang perlu ditambah yaitu :
1. Tempat air minum, dibutuhkan bila penelusuran lebih dari 3 jam, dapat pula untuk mengisi tabung karbit.
2. Makanan, harap dibawa jika menelusuri gua lebih dari 6 jam.
3. Pakaian, yang kering luar dan dalam.
4. Pelampung, untuk berenang.
5. Masker hidung, ini terutama digunakan untuk gua yang banyak Guano-nya (penyebab sakit paru-paru).
6. Alat tulis kedap air, untuk penelusuran yang rumit dan jauh sebagai catatan perjalanan dan untuk keperluan pemetaan.
7. Peralatan pemetaan, klinometer, rollmeter, kompas prisma, altimeter, barometer, thermometer dan tripod.
8. Alat penunjuk jalan, alat ini bisa berupa bendera, benang dll. dipergunakan untuk gua yang banyak lorongnya.
9. Jam tangan kedap air, penunjuk waktu yang akurat sangat penting dalam penelusuran.
10. Alat fotografi, untuk keperluan dokumentasi diperlukan kamera SLR, lampu kilat minimum 2 unit, aneka lensa filter, lensa zoom, shutter release, tripod dan bila ada kamera tahan air.
Untuk melakukan eksplorasi gua vertikal atau sumuran, tentunya peralatan tersebut diatas tidak memadai. Untuk keperluan tersebut dikenal suatu cara yang disebut SRT (Single Rope Technique) atau teknik menaiki dan menuruni tali tunggal, maka kita harus melengkapi dengan alat lainnya yaitu :
1. Sit Harnes (dada), tali pengaman dada.
2. Harnes duduk, tali pengaman/tambatan pinggang
3. Buntut sapi (Cow’s Tails) atau tali pengaman darurat.
4. Maillon Rapide (Delta), penyambung harnes dan tempat mengait alat.
5. Croll (Chest Jammer) alat menaiki tali.
6. Hand Jammer, alat menaiki tali.
7. Decender, alat untuk menuruni tali.
8. Tali prusik, 2 pasang.
9. Webbing, tali pita.
B. Perlengkapan kolektif :
Peralatan ini sangat dibutuhkan untuk kegiatan bersama (beregu) dan harus ada seseorang yang bertanggung jawab pada peralatan tersebut. Pemeliharaan barang kolektif ini sebaiknya dilakukan bersama dan dapat juga ditugaskan kepada satu orang. Sebaiknya yang memelihara alat tersebut diserahkan pada orang yang mengerti pada peralatan tersebut, jangan diberikan pada pemula karena sensitifnya peralatan. Namun adakalanya kecenderungan dalam suatu organisasi untuk melimpahkan tanggung jawab tersebut pada pemula, dalam hal ini sangatlah tidak tepat.
1. Tali, dalam hal ini mutlak diperlukan dalam kegiatan penelusuran gua vertikal. Alat ini sangat sensitif dan nyawa penelusur bergantung pada kualitas dan cara pemeliharaannya. Untuk penelusuran dipergunakan tali statik atau tali Speleo dan diperlukan yang berdiameter 9 - 11 mili. Untuk panjang tali disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Tangga kawat baja, sangat fleksibel dalam penggunaannya dan mudah dibawa. Sangat aman untuk melintasi air terjun terurtama jika rombongan sebagian besar kurang mampu menggunakan peralatan SRT. Tiap penggunaan tangga baja ini harus menggunakan pengaman (Safty line) tali dinamis.
3. Tas besar (speleo bag), untuk tempat tali atau peralatan yang lainnya.
4. Perahu karet, untuk mengarungi sungai atau danau.
5. Pulley, sering disebut dengan katrol dan bermanfaat untuk Rescue.
Teknik Penulusuran Goa Horizontal
Medan pada gua horisontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah di telusuri,sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat Melewatinya.
a. Lumpur.
a. Lumpur.
Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Tapi dalam kondisi lumpur setinggi lutut bahkan sampai setinggi perut, kita tidak mudah untuk melaluinya. Untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini akan lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.
b. Air.
Untuk kondisi lorong gua yang berair. terutama gua yang belum pernah di masuki kita tidak mengetahui kedalaman air dan kondisi di bawah permukaan air, untuk itu kita harus mengetahui prosedur dan mempunyai fasilitas pendukung. Syarat utama untuk melewati lorong yang berair adalah harus bisa berenang. Tetapi dengan kondisi lorong yang serba terbatas, teknik berenang dalam gua berbeda dengan berenang di kolam renang. Di sini kita memakai pakaian lengkap, sepatu bahkan mungkin membawa beban yang cukup berat. Pembagian team juga harus di sesuaikan, untuk leader ia tidak boleh membawa beban berat, karena leader harus membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan. Dalam kondisi tertentu kita menggunakan pelampung, perahu karet terutama untuk lorong yang panjang dan berair dalam.
Ada juga lorong yang hampir semua di penuhi oleh air hanya ada ruangan sedikit yang tersisa. Untuk melewatinya kita harus melakukan DUCKING ( kepala menengadah). Kadang-kadang kita harus melepas helm untuk menambah ruang gerak kepala. Dalam kondisi tertentu kita melakukan ducking dengan jongkok, bahkan dengan berbaring kalau badan tidak dapat masuk seluruhnya.
Diving, adalah teknik penyelaman dengan alat bantu pernafasan dan pakaian khusus. Teknik ini di lakukan pada lorong yang seluruh bagiannya tertutup oleh air (sump, siphon). Untuk perbandingan resiko kematian di cave diving adalah 60% tewas. Sedang resiko caving 15 %. Dengan melihat perbandingan resiko kematian yang besar ini kita di tuntut untuk ekstra hati-hati, seyogyanya tidak meneruskan penelusuran jika tanpa alat pendukung yang standart.
c. Climbing.
Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai adanya water fall ataupun lorong yang terletak di atas kita. Untuk dapat meneruskan penelusuran kita harus menggunakan teknik-teknik Rock Climbing. Seperti memasang pengaman sisip dan bor tebing untuk pembuatan lintasan, yang melakukan adalah leader dan kemudian anggota yang lain melewatinya dengan SRT. Teknik rock climbing harus bisa di lakukan pada kondisi medan seperti :
* Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui kedalamannya.
* Gua yang berbentuk celah dan menyempit bagian dasarnya
* Sungai besar atau danau yang dalam.
* Pemasangan rigging pada waterfall.
* Menghindari calcite floor atau oolith floor.
* Gua yang berbentuk celah dan menyempit bagian dasarnya
* Sungai besar atau danau yang dalam.
* Pemasangan rigging pada waterfall.
* Menghindari calcite floor atau oolith floor.
Etika Penelusuran Goa
Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah.
Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi etika dan kewajiban
kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur
gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya
kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar
akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi
gua-gua. Kemahiran teknik saja TIDAK CUKUP untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi etika dan kewajiban penelusuran gua.
Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi etika dan kewajiban
kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur
gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya
kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar
akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi
gua-gua. Kemahiran teknik saja TIDAK CUKUP untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi etika dan kewajiban penelusuran gua.
Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua dapat merusak gua,
karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya
masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua. Membuang benda-benda tersebut di atas adalah larangan mutlak juga dilarang corat-coret gua dengan benda apapun juga.
karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya
masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua. Membuang benda-benda tersebut di atas adalah larangan mutlak juga dilarang corat-coret gua dengan benda apapun juga.
Karenanya ikutilah Motto :
“jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”
“jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”
“jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”
Gua adalah bentukan alam yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun. Setiap
usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat di tebus. Karenanya
jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan
jelas yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk tujuan ilmiah sekalipun harus diusahakan pengambilan specimen secara cermat,
terbatas dan selektif. Itupun setelah diyakini, bahwa belum tersedia specimen
yang sama di dalam laporan atau museum dan belum diambil specimen yang sama
oleh ahli speleologi lainnya. Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh respek, tanpa mengganggu, mengusir, merusak/mengambil isi gua, baik yang berupa benda mati atau yang hidup.
usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat di tebus. Karenanya
jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan
jelas yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk tujuan ilmiah sekalipun harus diusahakan pengambilan specimen secara cermat,
terbatas dan selektif. Itupun setelah diyakini, bahwa belum tersedia specimen
yang sama di dalam laporan atau museum dan belum diambil specimen yang sama
oleh ahli speleologi lainnya. Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh respek, tanpa mengganggu, mengusir, merusak/mengambil isi gua, baik yang berupa benda mati atau yang hidup.
Menelusuri gua harus disertai kendaraan, bahwa kesanggupan dan ketrampilan
pribadi tidak usah dipamerkan. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutupi
oleh karena rasa malu. Bertindaklah sewajar-wajarnya, tanpa membohongi diri
sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan maka hal ini
akan membawa akibat buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
pribadi tidak usah dipamerkan. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutupi
oleh karena rasa malu. Bertindaklah sewajar-wajarnya, tanpa membohongi diri
sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan maka hal ini
akan membawa akibat buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Tunjukkan Respek Terhadap Penelusur Gua Dengan Cara :
1. Tidak menggunakan bahan-bahan atau peralatan yang disediakan oleh rombongan
lain tanpa persetujuan mereka. Jangan membahayakan para penelusur lain, misalnya
menimpukkan batu ketika ada penelusur lain di dalam gua, mengambil atau memutuskan
tali yang sedang terpasang, memindahkan tangga atau alat-alat lain yang dipasang
pemakai, penelusur lain.
lain tanpa persetujuan mereka. Jangan membahayakan para penelusur lain, misalnya
menimpukkan batu ketika ada penelusur lain di dalam gua, mengambil atau memutuskan
tali yang sedang terpasang, memindahkan tangga atau alat-alat lain yang dipasang
pemakai, penelusur lain.
2. Tidak menghasut penduduk di sekitar gua untuk melarang atau menghalangi rombongan lain memasuki gua, karena tidak ada satupun gua di bumi ini milik perseorangan kecuali apabila gua itu telah dibeli oleh yang bersangkutan. Untuk tujuan ilmiahpun, setiap gua harus dapt diteliti setelah menempuh prosedur yang berlaku.
3. Jangan gegabah menganggap anda penemu sesuatu, kalau anda yakin betul, bahwa
tidak ada orang lain yang menemukannya pula.
tidak ada orang lain yang menemukannya pula.
4. Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi atau ambisi pribadi,
karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia ilmu speleologi khususnya.
karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia ilmu speleologi khususnya.
5. Setiap usaha penelusuran gua ialah usaha bersama. Bukan usaha yang dicapai
sendiri. Karena setiap publikasi dari hasil penelusuran gua tidak boleh menonjolkan
prestasi pribadi tanpa mengingat jasa sesama penelusur.
sendiri. Karena setiap publikasi dari hasil penelusuran gua tidak boleh menonjolkan
prestasi pribadi tanpa mengingat jasa sesama penelusur.
6. Jangan menjelek-jelekkan nama sesama penelusur dalam suatu publikasi walaupun
si penelusur itu mungkin berbuat hal-hal negatif secara sadar atau tidak sadar.
Setiap publikasi negatif tentang sesama penelusur akan memberikan gambaran negatif
terhadap semua penelusur gua.
si penelusur itu mungkin berbuat hal-hal negatif secara sadar atau tidak sadar.
Setiap publikasi negatif tentang sesama penelusur akan memberikan gambaran negatif
terhadap semua penelusur gua.
7. Jangan melakukan penelitian yang sama apabila ada rombongan lain yang sedang
mengerjakan dan belum mempublikasikannya.
mengerjakan dan belum mempublikasikannya.
Bahaya-Bahaya Penelusuran Gua
Bahaya-bahaya penelusuran gua secara sudut pandangnya dapat dibedakan menjadi
dua :
dua :
A. Antroposentrisme, meninjau sudut pandang bahaya penelusuran gua terahadap
penelusur gua, biasanya terjadi akibat kealpaan atau kecerobohan penelusur gua itu sendiri.
penelusur gua, biasanya terjadi akibat kealpaan atau kecerobohan penelusur gua itu sendiri.
B. Speleosentrisme, meninjau dari sudut pandang bahaya penelusuran gua terhadap
gua itu sendiri, dari Tindakan-tindakan para penelusur gua.
gua itu sendiri, dari Tindakan-tindakan para penelusur gua.
Bahaya-bahaya dari sudut pandang Antrosentrisme :
1. Terpeleset/terjatuh dengan akibat fatal, atau gegar otak, terkilir, terluka,
patah tulang dsb. Hal ini paling sering terjadi, antara lain karena : penelusur
terburu-buru meloncat, salah menduga jarak dan sebagainya.
patah tulang dsb. Hal ini paling sering terjadi, antara lain karena : penelusur
terburu-buru meloncat, salah menduga jarak dan sebagainya.
2. Kepala terantuk atap gua/stalaktit/bentukan gua lainnya. Akibatnya : luka
memar, luka berdarah, gegar otak. Wajib pakai helm.
memar, luka berdarah, gegar otak. Wajib pakai helm.
3. Tersesat. Terutama bila lorong bercabang-bertingkat dan daya orientasi pemimpin regu penelusur kurang baik.
4. Tenggelam. Terutama apabila nekat memasuki gua pada musim hujan tanpa mempelajari Topografi dan hidrologi karst maupun sifat sungai di bawah tanah. Bahaya semakin nyata kalau harus melewati air terjun atau jeram deras. Apalagi kalau harus melakukan penyelamatan bebas tanpa alat dan penelusur kurang mahir berenang/menyelam. Jangan lupa membawa pelampung dan sumber cahaya kedap air. Mengarungi sungai yang dalam, harus pakai tali pengaman dengan lintasan tepat.
5. Kedinginan (Hipotermia).
Hal ini terutama bila lokasi gua jauh di atas permukaan
laut, penelusur beberapa jam terendam air, dan adanya angin kencang yang berhembus dalam lorong tersebut.
laut, penelusur beberapa jam terendam air, dan adanya angin kencang yang berhembus dalam lorong tersebut.
6. Dehidrasi.
Kekurangan cairan. Hal ini sudah merupakan bahan penelitian cermat
di Perancis. Hampir senantiasa bila sudah timbul rasa haus, sudah ada gejala
dehidrasi. Karenanya sudah menjadi suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar
lagi, bahwa sebelum memasuki gua, setiap penelusur harus minum secukupnya. Cairan paling tepat untuk menghindari dehidrasi ialah larutan oralit atau garam anti
diare.
di Perancis. Hampir senantiasa bila sudah timbul rasa haus, sudah ada gejala
dehidrasi. Karenanya sudah menjadi suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar
lagi, bahwa sebelum memasuki gua, setiap penelusur harus minum secukupnya. Cairan paling tepat untuk menghindari dehidrasi ialah larutan oralit atau garam anti
diare.