NAMA GUNUNG TERTINGGI DI INDONESIA

Senin, 31 Desember 2012







Gunung Wetar Memiliki Tinggi 5.282 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Jaya/Ngapulu Memiliki Tinggi 5.030 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Api Memiliki Tinggi 5.000 meter Berada di Propinsi Pulau Sangir
Gunung Dwikora Memiliki Tinggi 4.750 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Trikora Memiliki Tinggi 4.750 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Mandala Memiliki Tinggi 4.700 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Wurlali Memiliki Tinggi 4.668 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Yamin Memiliki Tinggi 4.595 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Laworkawra Memiliki Tinggi 4.481 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Leuser Memiliki Tinggi 4.446 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Serawema Memiliki Tinggi 4.355 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Legatala Memiliki Tinggi 4.241 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Nieuwerkerk Memiliki Tinggi 4.185 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Derabaro Memiliki Tinggi 4.150 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Kerinci Memiliki Tinggi 3.800 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Batutara Memiliki Tinggi 3.750 meter Berada di Propinsi NTT
Gunung Rinjani Memiliki Tinggi 3.726 meter Berada di Propinsi Lombok
Gunung Mahameru Memiliki Tinggi 3.676 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Semeru Memiliki Tinggi 3.676 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Anuan Memiliki Tinggi 3.673 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Rantemado Memiliki Tinggi 3.445 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Slamet Memiliki Tinggi 3.418 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Sumbing Memiliki Tinggi 3.371 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Yaramamafaka Memiliki Tinggi 3.370 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Arjuna Memiliki Tinggi 3.339 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Raung Memiliki Tinggi 3.332 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Awu Memiliki Tinggi 3.330 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
Gunung Kulawi Memiliki Tinggi 3.311 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Lawu Memiliki Tinggi 3.265 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Sonjo Memiliki Tinggi 3.225 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Welirang Memiliki Tinggi 3.166 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Dempo Memiliki Tinggi 3.159 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Agung Memiliki Tinggi 3.142 meter Berada di Propinsi Bali
Gunung Merbabu Memiliki Tinggi 3.142 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Argopuro Memiliki Tinggi 3.088 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Redoura Memiliki Tinggi 3.083 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Mueajan Memiliki Tinggi 3.079 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Cireme Memiliki Tinggi 3.078 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Gandadinata Memiliki Tinggi 3.074 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Bandahara Memiliki Tinggi 3.030 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Panet sagu Memiliki Tinggi 3.019 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Pangrango Memiliki Tinggi 3.019 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Binaiya Memiliki Tinggi 3.019 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Balease Memiliki Tinggi 3.016 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Abong-abong Memiliki Tinggi 3.015 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Kwoko Memiliki Tinggi 3.000 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Gede Memiliki Tinggi 2.958 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Suket Memiliki Tinggi 2.950 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Kambuno Memiliki Tinggi 2.950 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Kondo Memiliki Tinggi 2.947 meter Berada di Propinsi NTB
Gunung Arfak Memiliki Tinggi 2.940 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Masurai Memiliki Tinggi 2.935 meter Berada di Propinsi Jambi
Gunung Merapi Memiliki Tinggi 2.914 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Talakmau Memiliki Tinggi 2.912 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Pasaman Memiliki Tinggi 2.900 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Marapai Memiliki Tinggi 2.891 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Tolondokalaud Memiliki Tinggi 2.884 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Seblat Memiliki Tinggi 2.883 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Singgalang Memiliki Tinggi 2.877 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Lampobatang Memiliki Tinggi 2.871 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Butak Memiliki Tinggi 2.868 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Tambora Memiliki Tinggi 2.851 meter Berada di Propinsi NTB
Gunung Bateekeubeu Memiliki Tinggi 2.840 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Cikurai Memiliki Tinggi 2.821 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Patah Memiliki Tinggi 2.817 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Merapi Memiliki Tinggi 2.800 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Mengkoka Memiliki Tinggi 2.790 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tenggara
Gunung Bapagat Memiliki Tinggi 2.732 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Gamalama Memiliki Tinggi 2.700 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Karangetung Memiliki Tinggi 2.700 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
Gunung Pantai Cermin Memiliki Tinggi 2.690 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Togwomeri Memiliki Tinggi 2.680 meter Berada di Propinsi Papua
Gunung Bumi Geureudong Memiliki Tinggi 2.670 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Sinajai Memiliki Tinggi 2.669 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Papandayan Memiliki Tinggi 2.665 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Kabinturu Memiliki Tinggi 2.655 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Kawi Memiliki Tinggi 2.651 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Paroreang Memiliki Tinggi 2.616 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
Gunung Bumi Telong Memiliki Tinggi 2.600 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Talang Memiliki Tinggi 2.597 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Geureudong Memiliki Tinggi 2.590 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Perahu Memiliki Tinggi 2.565 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Ogoamas Memiliki Tinggi 2.565 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Mad Memiliki Tinggi 2.552 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Tanamatua Memiliki Tinggi 2.543 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Perkison Memiliki Tinggi 2.532 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Liman Memiliki Tinggi 2.512 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Colo Memiliki Tinggi 2.509 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
Gunung Rerekautimdu Memiliki Tinggi 2.508 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Sumbing Memiliki Tinggi 2.507 meter Berada di Propinsi Jambi
Gunung Tangga Memiliki Tinggi 2.500 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Jambangan Memiliki Tinggi 2.482 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Lompopana Memiliki Tinggi 2.480 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Gadang Memiliki Tinggi 2.466 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Sibuatan Memiliki Tinggi 2.457 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Lambuno Memiliki Tinggi 2.443 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Malino Memiliki Tinggi 2.443 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Tandiket Memiliki Tinggi 2.438 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Patuha Memiliki Tinggi 2.434 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Kapaladmada Memiliki Tinggi 2.429 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Tambusisi Memiliki Tinggi 2.422 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Sinabung Memiliki Tinggi 2.412 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Ranakah Memiliki Tinggi 2.400 meter Berada di Propinsi NTT
Gunung Butumpu Memiliki Tinggi 2.400 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Tumpu Memiliki Tinggi 2.400 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Bromo Memiliki Tinggi 2.392 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Ulumasen Memiliki Tinggi 2.390 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Bismo Memiliki Tinggi 2.365 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Nokilalaki Memiliki Tinggi 2.355 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Nangi Memiliki Tinggi 2.330 meter Berada di Propinsi NTB
Gunung Malabar Memiliki Tinggi 2.321 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Pekawa Memiliki Tinggi 2.314 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Daku Memiliki Tinggi 2.304 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Dampal Memiliki Tinggi 2.304 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Sihabuhabu Memiliki Tinggi 2.300 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Anjasmoro Memiliki Tinggi 2.282 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Maruwali Memiliki Tinggi 2.280 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Bukitraya Memiliki Tinggi 2.278 meter Berada di Propinsi Kalimantan Barat
Gunung Batukau Memiliki Tinggi 2.276 meter Berada di Propinsi Bali
Gunung Maitang Memiliki Tinggi 2.262 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Dali Memiliki Tinggi 2.253 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Guntur Memiliki Tinggi 2.249 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Cemarakuning Memiliki Tinggi 2.248 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Inerie Memiliki Tinggi 2.245 meter Berada di Propinsi Pulau Flores
Gunung Liangpran Memiliki Tinggi 2.240 meter Berada di Propinsi Kalimantan Timur
Gunung Lumut Memiliki Tinggi 2.234 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Besagi Memiliki Tinggi 2.232 meter Berada di Propinsi Sumatra Selatan
Gunung Towengkeli Memiliki Tinggi 2.229 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Runcing Memiliki Tinggi 2.221 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Salak Memiliki Tinggi 2.211 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Gentilomatinan Memiliki Tinggi 2.207 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Tentolomatinan Memiliki Tinggi 2.207 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
Gunung Bukittunggul Memiliki Tinggi 2.203 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Telaga Bodas Memiliki Tinggi 2.201 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Sipoimcim Memiliki Tinggi 2.199 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Argomayang Memiliki Tinggi 2.198 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Ophir Memiliki Tinggi 2.191 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Tinombala Memiliki Tinggi 2.183 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Kancana Memiliki Tinggi 2.182 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Wayang Memiliki Tinggi 2.181 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Rogojembangan Memiliki Tinggi 2.177 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Kalau Memiliki Tinggi 2.171 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Wilis Memiliki Tinggi 2.169 meter Berada di Propinsi Jawa TImur
Gunung Galunggung Memiliki Tinggi 2.168 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Harun Memiliki Tinggi 2.160 meter Berada di Propinsi Kalimantan Timur
Gunung Abang Memiliki Tinggi 2.152 meter Berada di Propinsi Bali
Gunung Sundoro Memiliki Tinggi 2.151 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Sorik Merapi Memiliki Tinggi 2.145 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Ebulolobo Memiliki Tinggi 2.123 meter Berada di Propinsi NTB
Gunung Tangkitlebak Memiliki Tinggi 2.115 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Sibela Memiliki Tinggi 2.111 meter Berada di Propinsi Maluku
Gunung Tinjaulaut Memiliki Tinggi 2.105 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Tanggamas Memiliki Tinggi 2.102 meter Berada di Propinsi Lampung
Gunung Sidole Memiliki Tinggi 2.099 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Catur Memiliki Tinggi 2.098 meter Berada di Propinsi Bali
Gunung Sibayak Memiliki Tinggi 2.094 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Sangiang Memiliki Tinggi 2.087 meter Berada di Propinsi Bali
Gunung Tangkuban Perahu Memiliki Tinggi 2.084 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Masigit Memiliki Tinggi 2.078 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Keknemo Memiliki Tinggi 2.070 meter Berada di Propinsi NTT
Gunung Boliohutu Memiliki Tinggi 2.065 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
Gunung Burangrong Memiliki Tinggi 2.064 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Windu Memiliki Tinggi 2.054 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Ungaran Memiliki Tinggi 2.050 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Gedang Memiliki Tinggi 2.050 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
Gunung Tilu Memiliki Tinggi 2.040 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
Gunung Salai Memiliki Tinggi 2.040 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Panjang Memiliki Tinggi 2.023 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Gawalisi Memiliki Tinggi 2.023 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
Gunung Klabat Memiliki Tinggi 2.022 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
Gunung Dingin Memiliki Tinggi 2.020 meter Berada di Propinsi Bengkulu
Gunung Segama Memiliki Tinggi 2.015 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Tampunanjing Memiliki Tinggi 2.008 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
Gunung Watuwila Memiliki Tinggi 2.000 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tenggara
Gunung Kelud Memiliki Tinggi 1.731 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
Gunung Batur Memiliki Tinggi 1.717 meter Berada di Propinsi Bali
Gunung Kalimutu Memiliki Tinggi 1.640 meter Berada di Propinsi NTB
Gunung Muria Memiliki Tinggi 1.602 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
Gunung Bateemecica Memiliki Tinggi 1.140 meter Berada di Propinsi DI Aceh
Gunung Krakatau Memiliki Tinggi 913 meter Berada di Propinsi Lampung

ARTI LAMBANG SISPALA SUKARESMI

Minggu, 30 Desember 2012


1. Biru : Selalu bertafakur kepada ALLAH SWT
2. Hijau : Hutan
3. Kuning : Sesama manusia tidak ada perbedaan
4. Putih : Hidup selalu ada rintangan
5. Gambar Segitiga Berkelok : Hidup tidak selalu lurus
6. Carabiner : Pemersatu antara Pelopor dengan Anggota
7. 5 Rantai : - Pancasila
                   - Rukun Islam
                   - 5 anggota Pelopor SISPALA SUKARESMI
8. SISPALA SUKARESMI mencakup wilayah Cianjur, Jawa Barat, Indonesia.

SAR

Pengertian SAR
Search and Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan memberikan pertlongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi : Mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana atau musibah, Mencari kapal dan atau pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, Evakuasi pemindahan korban musibah pelayara, penerbangan, bencana alam atau bencana lainya dengan sasaran utama penyelamatan jiwa manusia.

Sejarah SAR di Indonesia
Negara Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, yang menggunakn sarana perhubungan dengn sarana darat, laut, dan udara. Hal ini memungkinkan adanya musibah atau bencana seiring dengan pertumbuhan penduduknya.Sejak tahun 1950, Indonesia sudah terdaftar sebagai anggota ICAO ( International Civil Aviation Organization) dan IMCO ( Inttternasional Maritime Consutative Organization ) yag wajib memberikan pelayanan SAR jika terjadi musibah atau kecelakaan pada penerbangan ataupun pelayaran serta bertanggung jawab atas wilayahnya dengan melakukan koordinasi SAR.

Karena sifat dari musibah, jarak,teknik,dan unsur SAR dari unit-unit terkait semakin banyak maka pada tanggal 28 Februari 1972di bentuklah Badan SAR Indonesia (BASARI) berdasarkan Kepres no.11 tahun 1972, yang kemudian berganti menjadi Dadan SAR Nasional (BASARNAS) berdasarkan Kepres no. 47 tahun 1979 yang merupakan lembaga pelaksana kegiatan SAR tingkat pusat.

Pada tahun 1993 secara elembagaan organisasi SAR tumbuh dan berkembang makin pesat, baik di kalangan instansi pemerintah atau masyarakat yang semuanya mnjalankan fungsi SAR yaitu kegiatan evakuasi, seperti Mawil Hansip sebagai coordinator pelaksana penanggulangan bencana alam (SalKorLak PBA) ataupun kelompppok-kelompok pencinta alam yang membentuk tim ksusus dengan tugas melaksanakan kegiatan SAR. Dalam perkembangannya kegiatan SAR dibedakan menjadi 3, yaitu : SAR darat, SAR air, dan SAR Udara

A. Badan SAR Indonesia (BASARI)
BASARI merupakan Badan SAR yang pertama di Indonesia, yang merupakan badan yang menyelenggarakn tugas-tugas pencarian dan pertolongan serta berkedudukan dan bertanggungjawab kepada presiden.

BASARI mempunyai fungsi sbb:
• Mengkoordinasikan semua kegiatan atau usaha-usaha pencarian dan pertolongan sesuai dengan peraturan SAR nasinal dan internasional.
• Merencanakan, membina, dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan SAR di wilayah dan di daerah.
• Menyelenggarakan kerjasama dengan negara tetangga dan organisasi internasional di bidang SAR.

B. Badan SAR Nasional (BASARNAS)
BASARNAS yang dulunya adalah PUSARNAS mempunyai tugas pokok membina dan mengkoordinasi semua usaha kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelematan sesuai dengan peraturan SAR nasional dan international terhadap orang dan materiil yang hilang atau menghadapi bahaya dalam penerbangnan, pelayaran dan bencana alam.
Struktur Intern BASARNAS terdiri dari :
1. Sekretariat Badan : Bertugas memberikn pelayanan teknis dan administrative bagi seluruh satuan organisasi lingkungan BASARNAS dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
2. Pusat Pembinaan : Bertugas membina, memberikan pengarahan serta mengkoordinasi potensi-potensi SAr baik tenaga maupun peralatan dan persiapan menghadapi setiap kemungkinan terjadinya musibah penerbangan, pelayaran dan bencana alam.
3. Pusat Operasi SAR : Bertugas membina dan melaksanakan pengendalian operasi komunikasi dan elektronika, maka Pusat Operasi SAR terdiri dari bidang pengendalian dan bidang komunikasi elektronika.


c.Kantor Koordinator Rescue (KKR)
Kantor Koordinator Rescue (KKR) bertugas memyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua unsure SAR dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggungjawabnya. Organisasi Intern KKr adalah sbb :
1. Seksi Perencaan : Bertugas membantu kepala KKR di bidang perencaan dan program serta mempersiapkan perjanjian dengan instansi lainya.
2. Seksi Operasi : Bertugas melaksanakan system dari SAR dalam wilayah tanggung jawabnya.
3. Seksi Umum : Bertugas menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrative.


Jumlah KKR di Indonesia ada 4 yaitu :
1. KKR I : Jakarta dengan wilayah tanggung jawab melipui seluruh Sumatera, wilayah egara kita di LAut Cina Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah ( sesuai FIR Jakarta ditambah seluruh kepulauan Riau dan ebagian Laut Cia Selatan).
2. KKR II : Surabaya dengan wilayah tangung jawab meiputi Kalimanatan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timr ( sesuai FIR Denpasar )
3. KKR III : Ujung Pandang dengan wilayah tanggung jawab meliputi seluruh Sulawesi dan Maluku ( sesuai FIR Ujung Pandang).
4. KKR IV : Biak dengan Wilayah tangug jawab meliputi seluruh Irian Jaya (sesuai FIR Biak).


D. Sub Koordinasi Rescue (SKR)
Sub Koordinasi Rescue (SKR) mempunyai tugas sebagai berikut :
1. Sebagai perangkat pelaksana SAR, mengkoordinaasikan danmengarahkan pengguaan fasiitas sarana personil di wilayah tanggung jawabnya. SKR mempunyai fungsi melaksanakan peningkatan kesiagaan dan kemampuan teknis perasional.
2. Mengusahakan kerja sama semua unsur SAR yang berada dalam wilayahnya.
3. Menghubungi instansi pemerintah dan swasta di wilayah tanggungjawabnya sebagai koordinasi SAR.
4. Merencanakan dan mengadakan pelaksanaan-pelaksanaan SAR dalam wilayahnya.
5. Mengumpulkan data-data keterangan fasilitas, saran personil dan materiil dalam ilayahnya yang dilakukan untuk tugas SAR.
6. MEnyusun laporan hasil pelaksanaan SAR.


Tingkat Keadaan Darurat

Dalam SAR dikenal 3 tingkat keadaan darurat yaitu :

1. INCERFA (Ucertainityphase / fase tidak menentu / fase meragukan)
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai kehidupan/keselamatan orang-orana/penumpang pesaawat karena adanyainformasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan atau karena pesawat/kapal itu tidak memberikan tentang informasi posko sebenarnya (loss contack).

2.ALERFA (Alertphase / fase mengkhawatirkan / fase siaga)
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai kehidupan/keselamatan/penumpang pesawat kaaarena adanya informasi yang jelas bahwa karena pesawat/kapal tidak memberikan informasi lanjutan perkembangan posisi atau keadaanya.

3.DETRESFA (Distress Phase / Fase darurat bahaya)
Adalah suatu keadaan emergency ang ditujukan bila bantuan yang cepat telah dibutuhkan oleh pesawat/kapal yang tertimpa musibah karena telah terjadi informasi perkembangan posisi/keadaan setelah prosedur Alert Phase dilalui.

Tahapan Operasi SAR
Untuk mempermudah operasi SAR maka operasional dibagi dalam kelompk tahapan-tahapan, yaitu sbb :

1) Awareness Stage ( Tahap Kekhawatiran )
Kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat mungkin akan muncul. Termasuk didalamnya penerimaan informasi keadaan darurat dari seseorang.

2) Initial Action Stage ( TAhap Kesiagaan )
Aksi persiapan ini diambil untuk menyiagakan fasilitas SAR dapat mendapatkan informasi yang lebih jelas, termasuk didalamnya :
• Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang didapat
• Menyiapakan fasilllitas SAR
• Pencarian awal dengan komunikasi ( Plllemininary Communication Check )
• Perluasan pencarian degan komunikassi ( Extender Communication Check Excom)
• Pada kasus yang gawat dilaksanakan aksi secepatnya setelah tahapan tersebut bila keadaan mengharuskan.

3) Planing Stage ( Tahap Perencanaan )
Yaitu suatu pengembangan perencanaan yang efektif termasuk didalamnya :
• Pertunjukan SMC ( SAR Mission Coordinator)
• Perencanaan pencarian dan dimana sepatutnya dilaksanakan.
• Menentukan posisi paling mungin ( Most Propible Position / MPP ), dari korban yang keadaan darurat itu.
• Luas dari Search Area.
• Tipe pola pencarian
• Perencanaan pencarian yang didapt dipakai
• Memilih pembebasan/Delivery Point yang aman bagi korban

4) Operation Stage ( Tahap Operasi )
Yaitu tahap operasi termasuk didalamnya yaitu :
• Fasilitas SAR bergerak ke lokasi
• Melakukan pencarian
• Menolong/menyelamatakan orang
• Memberikan perawatan gawat darurat pada orban yang membutuhkan pertolongan
• Melakukan penggantian/penjadwalan pasukan pelaksanan di lokasi kejadian

5) Mission Conclusion Stage ( Tahap Akhir Misi )
Tahap konklusi ini adalah gerakan dari seluruh fasilitas SAR yang digunakan dari suatu titik pembebasan yang aman ke lokasi semula darinya (Reguler Location) termasuk didalamnya :
• Mengembalikan pasukan ke pangkalan (base camp) pencarian.
• Penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
• Membuat dokumentasi misi SAR itu
• Mengembalikan SAR Unit ke instansi masing-masing.

Komponen SAR


1. Organisasi
A. SC(SAR Coordinator)
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR / SKR dalam menggerakkan unsure-unsur operasi SAR karena jabatan dan wewenang yang dimillikinya. Kemudian unsure ini diserahkan kepada SMC untuk digunakan dalam opersi SAR.

B.SMC(SAR Mission Coordinator)
Adalah pejabat yang ditunjuk kepala BASARNAS / KKR / SKR karena memiliki kualifikasi yang ditunjuk atau telah melelui pendidikan sebagai seorang SMC yang diakui. SMC ini yang akan mengkoordinasi dan mengendalikanoperasi SAR dari awal sampai selesai. SMC ini mempunyai tugas dan tanggung jawab mengenai :
• Mendapatkan informasi musibah.
• Informasi mengenai keadaan cuaca dan laut.
• Menentukan daerah pencarian, cara dan fasilitas yang akan digunakan.
• Membagi-bagi daerah pencarian.
• Mengandalkan briefing terhadap unsure SAR yang dilibatkan.
• Mengevaluasi setiap perkembangan.
• Melaporkan kegiatan operasi secara teratur ke BASARNAS / KKR /SKR.
• Mengatur droppingperbekalan.
• Mengadakan koordinasi dengan KKR / SKR tetangga apabila pencarian tidak terbatas pada satu wilayah SAR saja.
• Menyarankan penghentian usaha pencarian bila dipandang perlu.
• Membebaskan unsur SAR dan menghentikan kegiatan hanya karena bantuan mereka tidak diperlukan.
• Membuat laporan terakhir perihal kaadaan hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.

C.OSC (On Scene Commender)
Adalah seorang pejabat yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasi dan mengendalikan unsur-unsur SAR di lapangan. Berarti OSC ini melaksanakan sebagian tugas-tugasnya. Dan persyaratan sebagai OSC sama dengan persyaratan yang diperlukan SMC. DI Indonesia saat ini adanya seorang OSC dalam operasi SAR dirasakan perlu karena belum lancarnya komunikasi yang ada dan luasnya area pencarian.

D.SRU (Search and Rescue Unit)
Adalah unsur SAR yang dioperasikan pada kegiatan SAR dan mengikuti pertahapan organisasi / instasi yang diperlukan dan diperbantukan / ditugaskan oleh instansi induknya atau merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam operasi SAR.

2. Fasilitas
Yang dimaksud fasilitas SAR adalah pendukung dari seluruh penyelenggaraan operasi SAR, dapat berupa fasilitas milik pemerintah,swasta,perusahaan,kelompok masyarakat maupun perorangan yang digunakan dalam operasi SAR. Jenisnya dapat berupa personil,pesawat,kapal laut,fasilitas komunikasi, tenaga-tenaga khusus terlatih, peralatan emergency dan lain-lain.

3. Komunikasi
Komunikasi ini akan berperan :
• penyampaian keadaan emergency
• untuk menaggapi/memberi respond an melanjutkan informasi pada berbagai pihak yang terkait dalam operasi SAR.
• Untuk mengendalikan suatu operasi

Di dalam komunikasi SAR ini termasuk juga sinyal-sinyal darurat, komunikasi operasi SAR,
penyampaian informasi SAR, fasilitas komunikasi yang dapat digunakan dan jaringan komunikasi. Tanpa adanya komunikasi maka pelaksanaan operasi tidak dapat berjalan dengan efektif dan efesien dengan hasil yang diharapkan.

4.Pelayanan Darurat Medik
Memberikan perawatan gawat darurat semampu mungkin pada korban yang cedera agar korban bertahan hidup dalam usaha pertolongan. Termasuk didalamnya penerapan keahlian-keahlian pertolongan pertama darurat sakit korban di lokasi kejadian serta evakuai dan transportasi korban ke rumah sakit atau pihak yang menangani lebih lanjut.

5. Dokumentasi
Memberikan semua data dan analisa dari informasi yang berhubungan dengan misi SAR termasuk semua data yang diterima pada tahap kekhawatiran sampai tahap terakhir komunikasi misi. Khususnya dimasukkan cerita / catatan baik secara tertulis atau visual (gambar / foto). Dan ini merupakan bahan untuk evaluasi kegiatan dan merupakan pedoman bagi kegiatan selanjutnya.

EXPLORER SAR(Teknik Pencarian)

Walaupun perencanaan-perencanaan pencarian yang spesifik akan bervariasi tergantung kepada situasinya strategi yang umum telah dikembangkan, yang mana akan dapat diterapkan untuk hampir seluruh situasi didalam bebas. Kesemuanya ini berputar berkisar 5 mode sebagai berikut :

1. Preliminary Mode
Mengumpulkan informasi-informasi awal, saat dari tim-tim pencari diminta bantuan tenaganya sampai kedatangan dilokasi, formasi dari perencanaan pencarian awal, perhitungan-perhitungan,dsb.

2. Confinement Mode
Memantapkan garis batas untuk mengurung orang yang hilang berada didalam area pencarian (search area).

3. Detection Mode
Pemeriksaan-pemeriksaan tempat-tempat yang dicurigai bila dirasa perlu dan pencarian dengan cara menyapu (sweep searches) diperhitungkan untuk menemukan orang yang hilang.

4. Tracking Mode
Mengikuti jejak-jejak atau barang-barang yang tercecer yang ditinggalkan orang hilang.

5. Evacuation Mode
Memberikan perawatan kepada korban dan membawanya dengan tandu apabila dibutuhkan.
Dari kelima mode itu, anggota ESAR (Explorer Search And Rescue) tim umumnya akan banyak terlibat pada Confinement, Detection, dan Evacuation. Pada Preliminary Mode, Operation Leader (OL) dari ESAR akan menjabat pekerjaan sebagai perhubungan dengan badan yang bertanggung jawab (Polisi, Badan SAR Nasional, dll)

Sejarah Singkat Pecinta Alam Indonesia

Sering kita mendengar dan menemui sekelompok manusia yang suka berpetualang di alam terbuka dengan membawa nama Pecinta Alam. Dan uniknya, nama tersebut, yakni pecinta alam hanya ditemui di Indonesia. Bukan dari segi bahasa, namun dari segi arti dan makna kalimat. Di Luar negeri sendiri mungkin lebih dikenal dengan nama Aktifis Lingkungan.

Konsep Pecinta Alam dicetuskan oleh Soe Hok Gie pada tahun 1964. Gie sendiri meninggal pada tahun 1969 karena menghirup gas beracun Gunung Semeru. Gerakan "Pecinta Alam" awalnya adalah pergerakan perlawanan yang murni kultur kebebasan sipil atas invasi militer dengan doktrin militerisme - patriotik. Perlawanan ini dilakukan dengan mengambil cara berpetualang dengan alasannya yakni :

"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi ( kemunafikan ) dan slogan - slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung." ( Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran )

Era pecinta alam sesudah meninggalnya Soe Hok Gie ditandai dengan adanya ekspedisi besar - besaran, dan era berikutnya ditandai dengan Era 1969 - 1974, merupakan era antara masa kematian Gie dan masa muncul munculnya Kode Etik Pecinta Alam .

Era ini menandai munculnya tatanan baru dalam dunia kepecinta - alaman, dengan diisahkannya Kode Etik Pecinta Alam ( KEPAI ) di Gladian IV Ujungpandang, 24 Januari 1974. Ketika itu di barat juga sudah mengenal suatu 'Etika Lingkungan Hidup Universal' yang disepakati pada 1972. Era ini menandakan adanya suatu babak monumental dalam aktivitas kepecintaalaman Indonesia dan perhatian pada lingkungan hidup di negara - negara industri. Lima tahun setelah kematian Gie, telah memunculkan suatu kesadaran untuk menjadikan Pecinta Alam sebagai aktivitas yang teo - filosofis, beretika, cerdas, manusiawi / humanis, pro - ekologis, patriotisme dan anti - rasial.

Dalam Etika 'Etika Lingkungan Hidup Universal' Ada 3 etika yang merupakan prinsip dasar dalam kegiatan petualangan yaitu :

Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill noting but time.

Dalam Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, disebutkan :

- Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

- Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

PRINSIP DASAR PETUALANGAN DAN PECINTA ALAM

1. Dalam pelaksanaan kegiatan petualangan terdapat etika dan prinsip dasar yang sudah disepakati bersama. Etika dan prinsip dasar tersebut muncul sebagai rasa tanggung jawab kepada alam. Selain didukung dengan perlengkapan dan peralatan yang memadai, juga dalam petualangan mutlak diperlukan kemampuan yang mencukupi. Kemampuan itu adalah kemampuan teknis yang yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan. Sebagai contoh, pendaki harus memahami ritme berjalan saat melakukan pendakian, menjaga keseimbangan pada medan yang curam dan terjal sambil membawa beban yang berat serta memahami kelebihan dan kekurangan dari perlengkapan dan peralatan yang dibawa serta paham cara penggunaannya.

2. Kemampuan kebugaran yang mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam. Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini menyangkut pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi / kemauan, percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.

3. Seorang pendaki seharusnya dapat memahami keadaan dirinya secara fisik dan mental sehingga ia dapat melakukan kontrol diri selama melakukan pendakian, apalagi jika dilakukan dalam suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri sebagai anggota kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.

4. Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap iklim dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus memahami pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh dirinya terhadap kondisi lingkungan yang ia datangi.

Keempat aspek kemampuan tersebut harus dimiliki seorang pendaki sebelum ia melakukan pendakian. Sebab yang akan dihadapi adalah tidak hanya sebuah pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari dekat, tetapi juga sebuah resiko yang amat tinggi, sebuah bahaya yang dapat mengancam keselamatannya.

MANAJEMEN PERJALANAN

Kamis, 20 Desember 2012


Manajemen Perjalanan berasal dari bahasa Inggris yaitu menez artinya perencanaan, jd dapat di simpulkan bahwa Manajemen Perjalanan adalah persiapan atau perencanaan sebelum melakukan pendakian di petualangan di alam bebas, karena kalau manajemen kita tidak sempurna maka perjalanan kita nantinya mengalami banyak masalah karena bahaya-bahaya tidak akan pernah lepas dari diri kita sendiri, jadi sebelum melakukan pendakian kita harus betul-betul mengetahui apa itu manajemen perjalanan.

Dalam mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melaksanakan kegiatan di alam terbuka maka yang perluh diperhatikan adalah rumus 4 W + 1 H :
Where (dimana) : lokasi atau tempat pelaksanaan kegiatan
Who (siap : pelaksana kegiatan
When (kapan) : waktu pelaksanaan kegiatan
Why (mengapa) : harus melakukan pendakian gunung tersebut
How (bagaimana) : prosses pelaksanaan kegiatan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Manajemen Perjalanan yang menjadi dasar dalam perencanaan perjalanan adalah :
1.Kenalilah setiap bagian dari wilayah serta medan yang akan kita lalui. Panjang dari route dan bagian-bagian dari route tersebut, bagaimana keadaan umumnya, apakah terdiri dari medan yang berbatu, rawa-rawa, semak belukar, hutan rimba Forest atau padang rumput, dll. Kenali pula keadaan iklimnya, temperatur siang hari dan malan hari, angin, hujan, senantiasa berkabut, atau salju dll.
2.Perhatikan maksud dan tujuan perjalanan anda.
3.Apa program program kegiatan anda secara umum dan macam kegiatan apa saja yang akan anda lakukan pada setiap bagian dari route perjalanan anda.
4.Perhatikan lamanya waktu dari perjalanan anda, juga waktu untuk setiap bagian dari route perjalanan.
5.kadang-kadang ada hal-hal khusus yang dibutuhkan oleh orang-orang yang tertentu, misalnya pipa tembakau, atau hal lain yang khas.
6.keterbatasan dari kita untuk membawa barang-barang serta perlengkapan tadi sebagai beban.

Dari hal-hal diatas kita dapat mebuat perhitungan-perhitungan, perencanaan untuk membawa, memilih atau bahkan mendesain perlengkapan apa saja yang perlu dipakai dan dibawa sehingga tujuan-tujuan terlaksanan dengan baik. Perlengkapan untuk suatu perjalanan harus selengkap mungkin tetapi juga harus praktis dan seringan mungkin” Maximum Utility in Minimum Weight”. Berat badan total sebaiknya tidak melebihi sepertiga berat badan kita, maksimal 15-20 kg. Dan yang perlu pula diperhatikan pertambahan berat beban akibat basah seandainya hujan dsb.

 Dalam sebuah perjalanan kegiatan alam bebas ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya perjalanan tersebut, yaitu:
  1. Faktor pertama sifatnya intern: artinya datang dari si pelaku perjalanan itu sendiri. Kalau faktor intern ini tidak dipersiapkan dengan baik, maka pelaku perjalanan terancam oleh bahaya subyek (subjective danger).
  2. Faktor kedua sifatnya ekstern : artinya datang dari luar pelaku perjalanan. Bahaya yang mengancam dari luar ini datang dari obyek perjalanan yang akan dihadapi, sehingga secara teknis disebut bahaya oyek (objective danger). Bahaya itu bisa berupa badai, hujan, udara dingin, kabut, longsoran, hutan lebat dan sebagainya.
I. RENCANA PERJALANAN

Dalam penyusunan rencana perjalanan harus diperhatikan beberapa hal penting yang mencakup:
1. Tempat Tujuan:
Mencari informasi tentang tujuan perjalanan merupakan tahap paling awal sebelum melakukan perjalanan. Informasi bisa kita dapat melalui literatur, media massa, penduduk setempat dan orang yang pernah melakukan perjalanan ke tempat tersebut. Adapun informasi yang perlu didapatkan adalah:

1. Rute-rute yang ada, dan mempertimbangkan rute mana yang akan dipilih.
2. Keadaan medan, struktur geologi serta hambatan-hambatan yang mungkin timbul, misalnya: air, gas racun, pasir apung dan lain-lain.
3. Keadaan flora dan fauna yang ada.

2. Waktu Perjalanan:

Memperkirakan waktu perjalanan perlu dilakukan. Ini terutama berguna untuk mempersiapkan makanan. Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah keadaan musim dan cuaca pada saat itu.

3. Anggota/Peserta:

Selain memilih anggota dalam perjalanan, yang perlu diperhatikan juga adalah pembagian kerja tim dan sebuah kerjasama yang solid. Karena kerjasama yang baik merupakan faktor yang menentukan keberhasilan perjalanan tersebut.

II. PERSIAPAN PERJALANAN

1. Mental dan Fisik:
Kondisi mental yang baik mutlak diperlukan dalam sebuah perjalanan. Kondisi fisik harus sesuai dengan standar perjalanan yang dihadapi. Latihan-latihan fisik yang teratur adalah upaya yang paling tepat dalam rangka standarisasi sebuah perjalanan. Dan perlu diperhatikan juga adalah proses aklimatisasi (penyesuaian suhu tubuh terhadap lingkungan), karena seringkali sebuah perjalanan di alam terbuka akan berhadapan dengan suhu lingkungan yang ekstrim.

2. Pengetahuan dan Ketrampilan:

Setiap anggota tim harus menguasai pengetahuan dasar hidup di alam terbuka, antara lain navigasi, survival dan pertolongan pertama pada gawat darurat. Jika perjalanan yang dipilih adalah pendakian maka harus dikuasai pengetahuan mountaineering.

3. Administrasi:

Surat-menyurat yang diperlukan dalam perjalanan kegiatan alam bebas antara lain: 1. Surat pengantar dari lembaga terkait, misalnya surat tugas dari Dekanat atau Rektorat. 2. Surat ijin kegiatan (Kepolisian dan Sospol) 3. Surat ijin masuk kawasan.

4. Peralatan:

Persiapan perlengkapan merupakan awal perjalanan itu sendiri. Perlengkapan kegiatan alam bebas umumnya memang mahal, tetapi ini wajar karena perlengkapan itu adalah pelindung keselamatan. Alam terbuka merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita. Karena itu diperlukan perlengkapan yang memadai agar mampu hidup di lingkungan yang baru.

5. Makanan:

Dua unsur gizi merupakan sumber tenaga paling utama adalah hidrat arang dan zat lemak. Hidrat arang memegang peranan penting, sebab jumlah tenaga yang dihasilkan pada waktu pembakaran tubuh per liter oksigen jauh lebih besar daripada jumlah tenaga yang dihasilkan dari pembakaran zat lemak, makanan itu misalnya:
dapat diperoleh antara lain dari beras, susu, gula-gula, coklat dan sebagainya.
Pembakaran lemak menjadi kalori juga berjalan lambat, sehingga ada baiknya memakan makanan yang mengandung banyak lemak pada pagi hari agar menghasilkan kalori ketika dibutuhkan di siang hari, makanan itu misalnya:
lemak daging, mentega, keju, kuning telur, kacang dan lain-lain.
Adapun protein, untuk pendaki gunung sebaiknya tidak disuguhkan dalam kadar yang tinggi. Protein yang berlebihan menyebabkan amonia dan asam amino banyak tertimbun di dalam darah sehingga cepat menimbulkan rasa lelah. Amonia dan asam amino yang berlebihan tadi menyebabkan banyak kencing, sehingga cairan banyak yang hilang. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi (kehilangan cairan pada sel-sel tubuh) dan lejar panas (heat exhaustion). Proses pembakaran protein oleh tubuh pun-hanya memberikan energi kurang dari 10 persen dari yang kita butuhkan. Protein antara lain dihasilkan oleh daging, ikan, ayam, putih telur dan sebagainya. Dan tidak disarankan utuk membawa mie instans.

6.Packing:

Kenyamanan membawa ransel juga tergantung pada pengepakan barang di dalamnya. Ada beberapa prinsip yang harus dipegang dalam pengepakan:

1. Letakkan barang-barang yang berat di bagian atas dan barang-barang yang ringan di bagian bawah. ini penting dilakukan agar berat seluruh beban jatuh di pundak, bukan di pinggang atau punggung.
2. Bagilah berat itu secara merata di sebelah kiri dan kanan, jangan menyiksa salah satu bahu dengan berat yang tak seimbang.
3. Letakkan barang-barang yang dibutuhkan dalam perjalanan di bagian atas.
4. Manfaatkan ruangan yang ada seefektif mungkin.

7.Anggaran Biaya:

Anggaran biaya harus dirinci secara detail, maka diperlukan salah satu dari tim yang bisa mengatur keluar masuknya uang. Selain pemasukan dan pengeluaran perlu dicantumkan juga dana tidak terduga.

III. SKENARIO OPERASI

1. Peta Lintasan:

Peta ini memberikan informasi tentang jalur lintasan yang digunakan, shelter peristirahatan dan tempat camp. Dicantumkan juga tempat dimana terdapat sumber air , daerah-daerah yang berbahaya dan kendala-kendala yang mungkin terjadi selama perjalanan.

2. Jalur Evakuasi:

Jalur evakuasi adalah jalur jang digunakan untuk membawa korban .apabila terjadi kecelakaan dalam kegiatan alam bebas. Dimana jalur tersebut dapat ditempuh dalam waktu sesingkat mungkin mencapai tempat penanganan selanjutnya terhadap korban.

3. Perhitungan Waktu:

Berdasarkan peta lintasan dibuat rincian waktu yang digunakan selama perjalanan mulai dari berangkat, kembali dan lama perjalanan. Diperhitungkan juga waktu istirahat dan camp.

IV. LAPORAN PERJALANAN

Laporan perjalanan memuat semua hasil perjalanan yang telah dilakukan. Dan yang paling penting dari laporan perjalanan adalah evaluasi dari perjalanan tersebut sehingga kita dapat belajar dari kesalahan apabila kita akan melakukan perjalanan lagi.

SURVIVAL

Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan kita bahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam.
S : Sadar dalam keadaan gawat darurat
U : Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
R : Rasa takut dan putus asa hilangkan
V : Vitalitas tingkatkan
I : Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
V : Variasi alam bisa dimanfaatkan
A : Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
L : Lancar, slaman, slumun, slamet
Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival ini, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :
S : Stop & seating / berhenti dan duduklah
T : Thingking / berpikirlah
O : Observe / amati keadaan sekitar
P : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan
Mengapa Ada Survival ?
          Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :
1. Keadaan alam (cuaca dan medan)
2. Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
3. Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)
4. Banyaknya kesulitan-kesulitan biasanya timbul akibat
5. kesalahan-kesalahan kita sendiri.
Kebutuhan Survival
Yang harus dipunyai oleh seorang survivor
1. Sikap mental
a.       Semangat untuk tetap hidup
b.      Kepercayaan diri
c.       Akal sehat
d.      Disiplin dan rencana matang
e.       Kemampuan belajar dari pengalaman
2. Pengetahuan
a.       Cara membuat bivak
b.      Cara memperoleh air
c.       Cara mendapatkan makanan
d.      Cara membuat api
e.       Pengetahuan orientasi medan
f.       Cara mengatasi gangguan binatang
g.      Cara mencari pertolongan
          3. Pengalaman dan latihan
a.       Latihan mengidentifikasikan tanaman
b.      Latihan membuat trap, dll
4. Peralatan
a.       Kotak survival
b.      Pisau jungle , dll
5. Kemauan belajar
 Langkah yang harus ditempuh bila saudara atau kelompok anda tersesat :
a.       Mengkoordinasi anggota
b.      Melakukan pertolongan pertama
c.       Melihat kemampuan anggota
d.      Mengadakan orientasi medan
e.       Mengadakan penjatahan makanan
f.       Membuat rencana dan pembagian tugas
g.      Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia luar
h.      Membuat jejak dan perhatian
i.     Mendapatkan pertolongan
Bahaya-bahaya dalam survival
Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :
1. Ketegangan dan panik
Pencegahan :
a.    Sering berlatih
b.    Berpikir positif dan optimis
c.    Persiapan fisik dan mental
2. Matahari / panas
a.    Kelelahan panas
b.    Kejang panas
c.    Sengatan panas
a.       Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas :
d.   Penyakit akut/kronis
e.    Baru sembuh dari penyakit
f.     Demam
g.    Baru memperoleh vaksinasi
h.    Kurang tidur
i.      Kelelahan
j.      Terlalu gemuk
k.    Penyakit kulit yang merata
l.      Minum alkohol
m.  Dehidrasi
Pencegahan keadaan panas :
a.    Persedian air
b.    Mengurangi aktivitas
c.    Garam dapur
d.   Pakaian yang dipakai longgar, berlengan panjang, celana pendek, dan kaos oblong
          3. Serangan penyakit
a.    Demam
b.    Disentri
c.    Typus
d.   Malaria
4. Kemerosotan mental
Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris
Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah
Keadaan lingkungan mencekam
Pencegahan : Usahakan tenang
Banyak berlatih 
5. Bahaya binatang beracun dan berbisa
Keracunan
Gejala : Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang
mencret, kejang-kejang seluruh badan, bisa pingsan.
Penyebab : Makanan dan minuman beracun
Pencegahan : Air garam di minum
Minum air sabun mandi panas
Minum teh pekat
Di tohok anak tekaknya
6. Keletihan amat sangat
Pencegahan : Makan makanan berkalori
Membatasi kegiatan
7. Kelaparan
8. Lecet
9. Kedinginan
     Untuk penurunan suhu tubuh < 30ƒ C bisa menyebabkan kematian
Membuat Bivak (Shelter)
Tujuan : untuk melindungi dari angin, panas, hujan, dingin
Jenis-jenis Shelter :
- Shelter asli alam
  Gua : Bukan tempat persembunyian binatang
- Shelter buatan dari alam
- Shelter buatan
          Syarat Shelter :
1.     Hindari daerah aliran air
2.     Di atas shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh
3.     Bukan sarang nyamuk/serangga
4.     Bahan kuat
5.     Jangan terlalu merusak alam sekitar
6.     Terlindung langsung dari angin
Mengatasi Gangguan Binatang
          1. Nyamuk
a.    Obat nyamuk, autan, dll
b.    Bunga kluwih dibakar
c.    Gombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk
d.   Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk
          2.  Laron
  Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan
          3.  Lebah
Apabila disengat lebah :
a.    Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali
b.    Tempelkan tanah basah/liat di atas luka
c.    Jangan dipijit-pijit
d.    Tempelkan pecahan genting panas di atas luka 
          4.  Lintah
Apabila digigit lintah :
a.    Teteskan air tembakau pada lintahnya
b.    Taburkan garam di atas lintahnya
c.    Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya
d.   Taburkan abu rokok di atas lintahnya
          5.  Semut
a.    Gosokkan obat gosok pada luka gigitan
b.    Letakkan cabe merah pada jalan semut
c.    Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut
          6. Kalajengking dan lipan
a.    Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar
b.    Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit
c.    Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka
d.   Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka
e.    Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan
7. Ular
a.    kenali dahulu jenis ular, apakah berbisa atau tidak.
1)      Ular berbisa biasanya memiliki warna yang mencolok dan memiliki warna yang bervariasi
2)      bentuk kepala ular berbisa lebih runcing daripada ular tidak berbisa
b.    jika ular tidak berbisa maka cukup bersihkan luka, agar tidak infeksi
c.    jika ular berbisa maka:
1)      pertama ikat sekitar bagian tubuh yang terkena gigitan
2)      lalu perbesar sedikit luka dengan cara disayat dengan pisau bersih
3)      pijat-pijat sekitar luka jika perlu dihisap agar bisa keluar, namun jika dihisap jangan sampai tertelan dan segera berkumur dengan air garam atau alkohol
4)      siram bekas luka yang telah dikeluarkan bisanya dengan alkohol / air garam / air sabun
5)      segera bawa korban kerumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut
Membuat Perangkap (Trap)
Macam-macam Perangkap :
3.        Perangkap model menggantung
4.        Perangkap tali sederhana
5.        Perangkap lubang jerat
6.        Perangkap menimpa
7.        Apace foot share
Bahan :
1.      Tali/Kawat
2.      Umpan
3.      Batang kayu
4.      Cabang pohon
5.      kembali ke atas
Membaca Jejak 
Jenis :
1.      Jejak buatan : dibuat oleh manusia
2.      Jejak alami : tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan
3.      Jejak alami biasanya menyatakan tentang :
4.      Jenis binatang yang lewat
5.      Arah gerak binatang
6.      Besar kecilnya binatang
7.      Cepat lambatnya gerak binatang
 Membaca jejak alami dapat diketahui dari :
1.      Kotoran yang tersisa
2.      Pohon atau ranting yang patah
3.      Lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput
Air
Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 ñ 30 hari tanpa makan, tapi orang tsb hanya dapat bertahan hidup 3 - 5 hari saja tanpa air. 
Air yang tidak perlu dimurnikan :
1.      Hujan
2.      Tampung dengan ponco atau-daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan
3.      Dari tanaman rambat/rotan
4.      Potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut
5.      Dari tanaman
6.      Air yang terdapat pada bunga (kantung semar) dan lumut 
          Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu :
1.    Air sungai besar
2.    Air sungai tergenang
3.    Air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut)
4.    Air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan
5.    Air dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya lalu buat lubang maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan
Makanan
Patokan memilih makanan :
1.    Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia
2.    Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok
3.    Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo
4.    Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan-lengan-bibir-lidah, tunggu sesaat. Apabila aman bisa dimakan
5.    Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam
 Hubungan air dan makanan
1.    Untuk air yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit
2.    Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan
3.    Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak
Tumbuhan yang dapat dimakanDari batangnya :
1.    Batang pohon pisang (putihnya)
2.    Bambu yang masih muda (rebung)
3.    Pakis dalamnya berwarna putih
4.    Sagu dalamnya berwarna putih
5.    Tebu
Tumbuhan yang dapat dimakan Dari daunnya :
1.    Selada air
2.    Rasamala (yang masih muda)
3.    Daun melinjo
4.    Singkong
5.    Akar dan umbinya :
6.    Ubi jalar, talas, singkong
Tumbuhan yang dapat dimakan Buahnya :
Arbei, asam jawa, juwet
Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :
Jamur merang, jamur kayu
              Ciri-ciri jamur beracun :
a.    Mempunyai warna mencolok
b.    Baunya tidak sedap
c.    Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
d.   Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
e.    Bila diraba mudah hancur
f.     Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
g.    Tumbuh dari kotoran hewan
h.    Mengeluarkan getah putih
Binatang yang bisa dimakan:
1.    Belalang
2.    Jangkrik
3.    Tempayak putih (gendon)
4.    Cacing
5.    Jenis burung
6.    Laron
7.    Lebah , larva, madu
8.    Siput
9.    Kadal : bagian belakang dan ekor
10.  Katak hijau
11.  Ular : 1/3 bagian tubuh tengahnya
12.  Binatang besar lainnya
 Api
Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.
1.    Dengan lensa / Kaca pembesar Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.
2.    Gesekan kayu dengan kayu.
3.    Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar
4.    Busur dan gurdi
5.    Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar.
6.    Bahan penyala yang baik adalah kawul terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren

Copyright @ 2013 Sispala Sukaresmi. Designed by Templateism | MyBloggerLab